Mengantisipasi kerusuhan pasca dinaikannya harga tiket
kereta listrik (KRL) commuter line. Polresta Depok menyiagakan puluhan
anggotanya berjaga di lima stasiun di Depok. Penjagaan sudah dilakukan sejak
Jumat (28/9). Sebanyak 10 orang polisi berjaga di tiap lima stasiun di Depok
mulai dari Stasiun Universitas Indonesia (UI) hingga Stasiun Citayam. “Langkah
antisipasi untuk mencegah hal tak diinginkan. Sejak Jumat sudah dilakukan
penjagaan di tiap stasiun,” kata Kapolresta Depok Kombes Pol Mulyadi Kaharni.
Penjagaan dilakukan dengan senjata dan alat pengaman
lainnya. Pihaknya mengharapkan, kenaikan tarif ditanggapi dengan baik oleh
pengguna. “Maksudnya, tidak ditanggapi dengan cara tak lazim. Tidak dengan
rusuh dan sebagainya,” imbau Kapolres.
Sementara itu, Pengurus Masyarakat Pencinta Kereta,
Ari Sagitarini mengatakan, kenaikan tiket merupakan bentuk pemotongan urat nadi
transportasi publik. Bahkan, dianggap sebagai pembunuhan massal. Bagaimana
tidak, kata dia, ratusan ribu pengguna kereta sudah pasti kecewa dengan
kenaikan tersebut. Terlebih, PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) tidak membarengi
dengan peningkatan pelayanan. “PT KAI sama sekali tidak memperhatikan
masyarakat pinggiran yang dulu pernah berjasa menegakkan repulik ini. Mereka
menaikan harga tiket jauh dekat Rp8000 sampai Rp9000. Mereka sama sekali tidak
menghargai para pengguna kereta,” kata Ari.
Dia sangat menyangkan kebijakan PT KCJ yang tidak
berpihak pada rakyat. Sebelumnya, KRL Mania telah melayangkan surat ke
Kementrian BUMN, Kementrian Perhubungan dan PT KCJ. Isinya penolakan kenaikan
tarif. KRL Mania juga membuka Pos Pengaduan di Stasiun Sudirman serta
membagikan selebaran tentang kenaikan tarif. “Kami menolak kenaikan tarif.
Pelayanan yang diberikan saja belum memenuhi kebutuhan pengguna kereta. PT KCJ
juga belum memiliki standar pelayanan minimum (SPM) sehingga tidak tepat jika
tariff dinaikkan,” kata Moderator KRL Mania, Nur Cahyo.(wandy)

